DITERIMA SNMPTN HINGGA MENDAPATKAN BEASISWA STUDY TOUR KE TURKI, BEGINI KISAH ADAM JORDAN

Masih ingat kisahku beberapa waktu lalu yang dimuat di website ini? Ya. Namaku, Adam Jordan. Siswa MA Al-Irtiqo’ Malang yang mengikuti banyak kejuraan hingga ketika wisuda dinyatakan sebagai salah siswa yang berprestasi.

 

Kali ini, aku ingin menceritakan keresahan sebelum dinyatakan lolos di sekolah yang penuh dengan kenangan ini. Simak ceritaku baik-baik, ya.

 

***

 

 

Kalau kata Band Stinky, mungkinkah kita kan slalu bersama. Kalau kata Rizky Febian, berpisah itu mudah. Tepat delapan bulan yang lalu, tengah malam di depan musala, perbincangan bosan terus dibicarakan, jarang tak terbahas, menjadi topik epik di kala tak ada cerita. Bosan itu sudah pasti tapi tidak dengan isinya, seakan-akan ini adalah klimaks dari seluruh cerita yaitu: pulang. Halu itu sudah pasti, tapi itu lebih baik dari pada dipendam.

 

“Dam, sisa berapa bulan lagi ya? Capek nunggu,” ujar Fikram.

“Sabar aja, entar nggak kerasa,” ungkapku.

 

Obrolan itu terus saja terjadi tiap bulannya, ditambah masalah kuliah. Tak heran hampir semua kamar memiliki kalender (untuk coret tanggal). Tak hanya itu, cermin pun juga menjadi saksi tulisan yang tak bosan tiap harinya diganti (contoh: H-56). Tak ada yang tak bahagia jika membahas hal itu, sepertinya itu adalah impian kami semua di sini.

 

Waktu terus berjalan sama dengan kegiatan kami yang makin ke sini makin menjadi-jadi, tapi itu bukan hambatan bagi kami karna kepulangan di depan kami. Makin hari makin tersadar bahwa kami sudah kelas dua belas di waktu ini. Waktu tak akan bisa diajak kerjasama, tak mudah bagi kami bisa melewati disituasi ini. Dari awal bertemu semua berkubu, ternyata di kelas dua kita dipisahkan oleh gejala dunia: Corona.

 

Tak sampai situ kami kembali bersatu karna sudah kelas tua (kelas tiga), pikir cuma hal yang biasa, tapi guru tak bosan-bosannya berkata, “Sudah mau lulus dinikmatin semuanya.”

 

Hanya jadi angin lewat karena, memang fokus belum ada di situ. Jadi, perjalanan menuju usai masih dibawa santai, bersama perjalanan menuju usai sering kami dapatkan rasa kecewa, sedih, serta tangis karna banyak yang usai tanpa pada waktunya. Dari staf, guru sampai waka humas madrasah tapi rasa itu semakin pudar karna yang baru pun tak kalah jauh, mereka semua sama; sama-sama berjasa.

 

Lima bulan menjelang usai pun masih belum ada terbenak kata pisah, hanya pulang dan kuliah. Tepatnya di bulan Desember 2021, kami semua dikumpulkan, muka kebingungan pun terpasang.

 

“Anak-anak kita akan melaksanakan PAS di minggu depan. Jadi, dipersiapkan semuanya, sekian terima kasih.”

 

Kebingungan pun menjalar ke mana-mana, masih banyak yang tidak merasa bahwa PAS ini menjadi salah satu perjalanan menuju usai. PAS akhir, di tahun akhir, tak tau semua akan berakhir. Tanda PAS dijadikan patokan bahwa kepulangan sudah depan mata; tiga bulan lagi. Pada saat itu perbincangan bukan lagi tentang kepulangan tapi tentang kelanjutan cerita hidup kami.

 

… TIGA BULAN TERASA …

 

Tepatnya lima bulan yang lalu, terjadi lagi, perbincangan yang tak ada habisnya.

 

“Dam, perasaan baru bulan kemarin kita cerita-cerita di sini masalah kapan pulang, eh tahu-tahu sudah mau dekat (sambil tersenyum bangga),” ungkap Fikram.

 

“Apa kubilang entar enggak kerasa. Oh iya, kau dah tentukan jurusanmu lah?”

 

“Oh iya masih bingung aku, Dam.”

 

“Besok pegang laptop cari tau dah jurusan yang sesuai sama kamu.”

 

Malam itu menjadi saksi bahwa kami tak main-main untuk masalah kuliah, ketika PAS sudah kami lalui, terasa gembira yang menjadi-jadi, bersama itu pun kami sibuk dengan persiapan masa depan kami.

 

Dari buat akun LTMPT sampai nunggu pengumuman kuota untuk sekolah (SNMPTN), dan alhamdulillah sekolah kami mendapatkan kouta delapan peserta, bangga dan terharu sudah menjadi satu. Terpilihlah kami (Siswa Eligible). Cukup berat dengan gelar ini tekanan dari teman, keluarga, sampai batin. Di sini semakin kerasa kalau di ujung sana usai sudah mendadah.

 

Berusaha menjadi kenangan yang baik

Berusaha menghargai waktu yang berdurasi

Berusaha memperbaiki yang ada untuk persiapaan kata pisah

 

Ego kuredamkan.

Dendam kuhilangkan pelan-pelan.

Tiap moment kusimpan untuk pulang.

Bukan hanya itu utang pun kulunaskan.

Tak ada lagi kata kubu, tak ada lagi kata musuh.

 

Perlahan semua menjadi satu untuk satu yaitu tak mau kisah tiga tahun ini menjadi pilu. Hingga di titik ini pun datang ujian madrasah tanda usai sudah depan mata. Yang belum erat kami eratkan, yang belum kuat kami kuatkan. Setelahnya satu per satu pun pulang ke keluarga aslinya diikutin tangisan yang akan terkenang. Aku yang pulang akhiran semakin mengerti makna usai.

 

Hingga sampai kami di mana di tanggal 29 Maret 2022 di jam 15:00 kami berkumpul di zoom masing-masing untuk membuka masa depan kami (pengumuman SNMPTN).

 

Ketika hitungan 1 ... 2 … 3 …, ada rasa syukur yang tak bisa kuucapkan. Sungguh, aku tak percaya dengan tulisan yang tertera di layar laptop.

 

Aku dinyatakan lolos SNMPTN.

 

Perjalanan yang sesungguhnya telah siap dimulai.

 

Durasi perpisahan dengan teman-teman telah ada di depan mata. Namun, ada perpisahan lain yang membuatku tak keruan. Adalah kabar Ayah yang meninggal pada 1 April 2022.

 

Aku ingin protes dan tak menerima kenyataan. Namun, takdir tak bisa ditolak. Aku hanya bisa menerima. Apalagi, Ayah telah memberikan bekal yang sangat cukup selama ini. Ia juga pasti bangga dan senang dengan kabar kelolosanku.

 

***

 

Berada di Al-Irtiqo’ membawaku bermimpi ke arah lebih jauh. Aku mendapatkan kejutan yang tak terkira, seperti yang dikisahkan pada awal bagian ini, aku dinyatakan menjadi salah satu siswa yang berprestasi. Hadiahnya membuat rasa bahagia langsung membuncah.

 

Ya, sebagai salah satu siswa berprestasi, aku akan diberangkatkan ke Turki bersama sembilan siswa lainnya. Sebelum pergi ke Turki, aku dan teman-teman ditemani Ustaz Budi pergi ke Imigrasi Blitar menggunakan kereta untuk membuat paspor.

 

Sebelum kututup tulisan ini, aku ingin berpesan pada adik-adik, “jangan takut melangkah ke depan kalau ada program program ikuti saja. Sebab, rezeki tidak ada yang tahu.”

 

Penulis         : Adam Jordan

Penyunting  : Sutrisno Gustiraja Alfarizi